Pelayanan
Kantor
Disusun
oleh:
Anggi
Maharani Safitri (135254006)
Nindy
Faizah Afaf Tri Ugan (135254024)
Rizkita
Cahya Henviana (135254029)
D4 –
Administrasi Bisnis
Politeknik Negeri Bandung
Abstract
Service is doing
something for others. Many forms of service such as Level to embodies, market
segmentation, Skills provision of services / service, the service
organization's goals, level of regulation, the intensity level of employees,
benefits for consumers, rate the service provider and customer contacts. Apart
from the form of service unisex unique characteristics of the service that is
commonly known as the paradigm IHIP (intangibility, heterogeneity,
Inseparabikity, and perishability). In the service a lot of things that must be
considered and the most important of which is the quality of service, while the
notion of quality of service is an act of a person to another person through
the presentation of products or services in accordance with the applicable size
on the product or service to memenuhu needs, wants, and expectations people
served. Quality of service can be assessed from several aspects such as the
physical aspect, Policy, Tangibles, Reliability and much more. Meanwhile unisex
factor of the quality of services Appearance Expertise example, Voice and
practice in speaking, ordinances and behavior. From the service we turn to
communication, because the relationship between communication with the service
very closely. Communication is one of the tasks or services to be performed by
each office under the leadership of the office manager for the benefit of the
entire organization as well as the summit leaders. Communication is one of the
basic functions of the office and a process that is essential for all forms of
enterprise. Communication is the process of conveying information from one
person to another.
Keyword: Communication, Quality
of Service, Services
PENDAHULUAN
Pelayanan merupakan ciri utama bagi
sebuah kantor, terutama bagi penyediaan informasi, karena dengan adanya
informasi maka pekerjaan maupun
pembuatan keputusan dapat dilaksanakan. Sedangkan pelayanan kantor sendiri
adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh kantor dalam rangka
pemenuhan kebutuhan yang dapat melibatkan baik barang maupun jasa.
Kualitas pelayanan merupakan kunci dari
keberhasilan dan kinerja suatu organisasi. Dengan pelayanan yang baik, maka
kepuasan dan loyalitas pengguna atau masyarakat dapat dipertahankan dan bahkan
ditingkatkan. Maka dari itu untuk menciptakan loyalitas pelanggan kualitas
layanan di dalam kantor sangatlah penting.
Disamping masyarakat modern akan
tertarik terhadap pelayanan yang dapat menghargai waktu mereka karena
kecepatannya, baik itu dalam transaksi, responsi terhadap perubahan kebutuhan
dan gaya hidup mereka, ataupun kecepatan responsi terhadap tuntutan-tuntutan
baru merupakan faktor yang menentukan keputusan masyarakat untuk tetap loyal.
Pelayanan merupakan suatu bentuk
komunikasi. Pelayanan bisa berupa komunikasi lisan maupun tulisan. Hubungan
antara pelayanan dengan komunikasi sangatlah erat. Komunikasi merupakan salah
satu tugas atau pelayanan yang harus dilakukan oleh setiap kantor di bawah
pimpinan manajer perkantoran untuk kepentingan seluruh organisasi maupun puncak
pimpinannya.
MEMAHAMI
DIMENSI DAN DINAMIKA LAYANAN
1.
Service:
Apa dan Mengapa
Secara
etimologi, istilah service mungkin bisa diartikan sebagai “melakukan sesuatu
bagi orang lain”. Akan tetapi, tidaklah mudah mencari padanan kata dalam bahasa
Indonesia yang pas untuk istilah tersebut. Setidaknya ada tiga kata yang bisa
mengacu pada istilah tersebut, yakni jasa, layanan, dan servis. Sebagai jasa,
service umumnya mencerminkan produk tidak berwujud fisik (intangible) atau
sektor industri spesifik, seperti pendiidikan, kesehatan, telekomunikasi,
transportasi, asuransi, perbankan, perhotelan, konstruksi, perdagangan,
rekreasi, dan seterusnya. Sebagai layanan, istilah service menyiratkan segala
sesuatu yang dilakukan pihak tertentu (individu maupun kelompok) kepada pihak
lain. Salah satu contohnya adalah layanan pelanggan (customer service).
Sementara itu, kata servis lebih mengacu konteks reparasi, misalnya servis
sepeda motor, servis peralatan elektronik, dan seterusnya.
Menurut
Tjiptono (2008) berkembangnya berbagai prespektif menyangkut definisi service
menunjukkan secara gamblang signifikan dan dinamika peran service dalam kancah
perekeonomian dunia. Hal ini terutama dipicu oleh tiga faktor. Pertama,
pertumbuhan sektor jasa berlangsung pesat dalam beberapa dekade terakhir.
Semakin banyak bermunculan jenis-jenis jasa baru dan inovatif. Kedua, faktor
layanan telah bertumbuh pesat sebagai diferensiator dan kunci keunggulan
bersaing. Bila ditinjau dari sudut pandang perusahaan, salah satu cara efektif
untuk melakukan diferensiasi dan positioning unik adalah melalui perancangan
dan penyampaian layanan spesifik. Ketiga, disadari atau tidak, setiap bisnis pada hakikatnya adalah bisnis
jasa/layanan. kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan eksternal sangat
bergantung pada kualitas relasi dan kerja sama pelanggan internal. Oleh sebab
itu, kepuasan dan loyalitas eksternal baru bisa terwujud secara efektif apabila
kepuasan dan loyalitas pelanggan internal tercipta.
2. Bentuk-bentuk Layanan
Konsekuensi
logis dari adanya berbagai macam variasi kombinasi anatara barang dan jasa
adalah sulit menggeneralisasikan layanan/jasa tanpa melakukan pembedaan lebih
lanjut. Sejauh ini telah banyak pakar yang mengemukakan skema klasifikasi
layanan/jasa, tergantung prespektif masing-masing. Menurut Tjiptono (2008),
setidaknya delapan kriteria klasifikasi berikut ini paling banyak digunakan.
1. Segmentasi
pasar
Berdasarkan segen pasar, jasa dapat
dibedakan menjadi jasa/layanan yang ditujukan pada konsumen akhir dan jasa/layanan
bagi konsumen organisasional.
2. Tingkat
keberwujudan
Kriteria ini berhubungan dengan tingkat
keterlibatan produk fisik dengan konsumen. Berdasarkan kriteria ini,
jasa/layanan dapat dipilah menjadi tiga macam yaitu Rented-good services, owned –goods service, dan Non-good service.
3. Keterampilan
penyediaan jasa/layanan
Berdasarkan tingkat keterampilan
penyadia jasa/layanan, terdapat dua tipe pokok jasa yaitu professional services dan non-professional
services. Perbedaan pokok di antara kedua tipe tersebut adalah jasa
profesional biasanya menuntut tingkat pendidikan formal tertentu dari para
penyedia layanan dan bahkan banyak diantara memliki asosiasi profesi
sendiri-sendiri.
4. Tujuan
organisasi jasa
Berdasarkan tujuan organisasi,
jasa/layanan dapat diklasifikasikan menjadi commercial
service atau profit services dan non-profit services.
5. Tingkat
regulasi
Dari aspek regulasi, jasa dapat dibagi
menjadi regulated services dan non-regulated services.
6. Tingkat
intensitas karyawan
Berdasarkan tingkat intensitas karyawan,
layanan dapat dikelompokkan menjadi dua macam: equipment-based services dan people-based
services.
7. Tingkat
kontak penyedia layanan dan pelanggan
Berdasarkan tingkat kontak ini, secara
umum layanan dapat dikelompokkan menjadi high-contact
services dan low-contact services.
8. Manfaat
bagi konsumen
Dalam hal ini, layanan bisa dibedakan
menjadu dua macam. Pertama, for consumer
(facilitating services). Kedua, to
costumer (human services).
3. Problematika dan strategi layanan
Menurut
Tjiptono (2008), Riset dan literatur manajemen jasa mengungkap bahwa
jasalayanan memiliki empat karakteristik unik yang membedakannya dari barnag
dan berdampak pada strategi mengelola dan memasarkannya. Keempar karakteristik
utama tersebut dikenal dengan istilah paradigma IHIP (intangibility, Heterogeneity, Inseparabikity, dan Perishability).
1) Intangibility
Jasa bersifat intangible, artinya jasa
tidak dapat dilihat, dirasa, dicium, didengar, atau diraba sebelum dibeli dan
dikonsumsi. Produk-produk intangible diyakini
lebih dievaluasi, karenanya bisa menimbulkan tingkat ketidakpastian dan
presepsi resiko besar. Oleh karena itu, untuk menekan ketidakpastian, para
pelanggan acap kali memperhatikan simbol, tanda, petunjuk atau bukti dfisik
kualitas jasa bersangkutan. Dalam rangka mengatasi masalah-masalah yang ada,
alternatif-alternatif strategi berikut bisa dipertimbangkan dengan cermat:
manajemen bukti fisik, personalisai layanan, manajemen komunikasi getok tular,
manajemen citra korporat, manajemen biaya, dan manajemen komunikasi purnabeli.
2) Heterogeneity/Variability/Inconsistency
Layanan bersifat sangat variabel atau
heterogen karena merupakan non-standardized output, artinya bentuk, kualitas,
dan jenisnya sangat beraneka ragam, tergantung pada siapa, kapan, dan dimana
layanan tersebut dihasilkan. Variabilitas pengalaman dan kualitas layanan
seperti ini dikarenakan tiga hal: (1) kerja sama atau partisipasi pelanggan
selama penyampaian layanan; (2) moral/motivasi karyawan dalam melayani
pelanggan; serta (3) beban kerja perusahaan. Faktor-faktor ini menghadirkan
tantangan tersendiri dalam upaya setiap perusahaan mengembangkan citra merek
yang konsisten sepanjang waktu. Untuk menekan dampak negatid variabilitas
kualitas layanna, ada empat strategi yang bisa dipertimbangkan secara cermat:
investasi pada manajemen sumber daya manusia, industrialiasai jasa/layanan, service
customization, dan pemantauan kepuasan pelanggan.
3) Inseparability
Masalah-masalah berkenaan dengan
karakteristik inseparability dapat
ditangani dengan sejumlah strategi, diantaranya: manajemen sumber daya manusia,
mengelola konsumen, dan mengelola lokasi layanan.
4) Perishability
Perishability berarti bahwa jasa/layanan
adalah komoditas yang tidak tahan lama, tidka tahan disimpan untuk pemakaian
ulang di waktu datang, dijual kembali, atau dikembalikan. Secara garis beasar,
setiap penyedia layanan/jasa memiliki lima alternatif ancangan manajemen
permintaan:
-
De-marketing. Perusahaan berusaha
mengurangi permintaan pada periode permintaaan puncal.
-
Synchro marketing. Perusahaan berusaha
menyelaraskan fluktuasi permintaan dengan berfokus pada upaya-upaya meningkatkan
permintaan pada periode sepi.
-
Menyimpan permintaan. Dalam hal ini
manajemen permintaan jasa/layanan. ada pengecualian khusus menyangkut
karakteristik perishability dan penyimpanan jasa/layanan.
-
Sistem antrian. Pelanggan harus menunggu
untuk dilayani.
-
Menawarkan layanan komplementer.
Perusahaan mengembangkan layanan komplementer, misalnya bank menawarkan
fasilitas ATM, phone banking, dan internet banking.
MERANCANG DAN
MENYAMPAIKAN LAYANAN
1. Layanan Buat Siapa?
Menurut
Tjiptono (2008) segmentasi pasar adalah proses mengelompokkan pasar heterogen
ke dalam kelompok-kelompok pelanggan yang memiliki kesamaan dalam hal kebuthan
dan karakteristik yang mengarahkan kelompok-kelompok tersebut pada respons yang
sama terhadap penawaran produk dan program pemasaran tertentu.
1. Segmentasi
Segmentasi dapat dilakukan berdasarkan
sejumlah basis, tergantung tipe pasarnya (pasar konsumen akhir versus pasar
konsumen bisnis/organisasi). Basis segmentasi untuk pasar konsumen akhir bisa
dikelompokkan menjadi tiga kategori: karakteristik latar belakang konsumen,
sikap konsumen, dan perilaku konsumen. Sementara segmentasi konsumen bisnis
bisa didasarkan pada tiga faktor: karakteristik latar belakang
perusahaan/organisasi, karakteristik attitudinal dan karakteristik behavioral.
2. Targeting
Tidak semua segmen mencerminkan peluang
aktraktif yang sama bagi sebuah perusahaan. Oleh karenanya, targeting yang
efektif memerlukan proses mengevaluasi daya tarik realtif berbagai segmen dan
misi serta kapabilitas perusahaan dalam memberikan apa yang dibutuhkan
masing-masing segmen. Proses targeting terdiri dari lima langkah pokok: (1)
menentukan kriteria daya tarik pasar dan posisi kompetitif; (2) menentukan
bobot setiap faktor; (3) menilai setiap segmen berdasarkan setiap faktor; (4) meproyeksikan
posisi masa depan setiap segmen; dan (5) memilih segmen yang akan dijadikan
pasar sasaran.
2. Keunggulan Apa Yang Ditawarkan
Menurut
Al Ries dan Jack Trout dalam Tjiptono (2008), positiioning (pemosisian) pada hakikatnya berorientasi pada
diferensiasi. Mereka merumuskan sebagai upaya kreatif untuk menciptakan posisi
unik dan unggul bagi sebuah merek dalam benak pelanggan sasaran sedemikian rupa
sehingga merek tersebut bisa menonjol di antara kerumunan merek-merek serupa
yang membanjiri pasar.
3. Alternatif Sistem Penyampaian Layanan
3.1.Perancangan
sistem pernyampaian layanan
Pada prinsipnya, proses perancangan
layanan merupakan sebuah proses yang berlangsung terus-menerus. Apabila sudah
mulai diimplementasikan, berbagai modifikasi dapat saja dilakukan dalam rangka
menyesuaikan diri dengan setiap perkembangan dan perubahan lingkungan yang
berlangsung.
3.2.Unsur-Unsur
Desain Layanan
Keputusan perancangan layanan perlu
memperetimbangkan sebelas faktor utama, di antaranya (Mudie & Cottam dalam
Tjiptono 2008): Kontak pelanggan, Bauran layanan (service mix), Lokasi konsumsi
layanan, desain fasilitas dan aksesori layanan, teknologi, karyawan, struktur
organisasi, informasi, manajemen permintaan dan penawaran, prosedir, dan
pengendalian.
3.3.Tipe
operasi layanan
Tipe
operasi layanan dalam sistem penyampaian layanan dapat dikelompokka secara
garis besar ke dalam empat jenis, yakni: proyek, batch (job shop), lini (flow
shop), dan proses berkesinambungan (on-going process).
KUALITAS
PELAYANAN
1. Pengertian
Kualitas Pelayanan
Menurut
Sugiarto (2002) kualitas pelayanan adalah suatu tindakan seseorang terhadap
orang lain melalui penyajian produk atau jasa sesuai dengan ukuran yang berlaku
pada produk atau jasa tersebut untuk memenuhu kebutuhan, keinginan, dan harapan
orang yang dilayani. Sementara itu, Kotler dalam Murwanti & Nursiam (2004)
mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai keseluruhan ciri dan karakteristik
produk atau jasa yang mendukung kemampuan untuk memuaskan kebutuhan. Definisi
ini menekankan pada fokus pelanggan. Menurut Parasuraman, dkk dalam Amalina
(2010) kualitas pelayanan adalah perbandingan antara pelayanan yang diharapkan
konsumen dengan pelayanan yang diterimanya.
Berdasarkan
pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa kualitas pelayanan
merupakan ukuran pelayanan yang
dilakukan seseorang dalam penyajian produk atau jasa untuk memuaskan kebutuhan
yang diharapkan konsumen.
2.
Aspek – Aspek Kualitas
Pelayanan
Metode SERVQUAL, menurut
Lovelock & Wright dalam Amalina (2010) merupakan metode pengukuran
kualitas pelayanan yang paling banyak digunakan karena frekuensi penggunaannya
yang tinggi. Disamping itu, metode SERVQUAL dipandang memenuhi syarat validitas
secara statistic. Metode SERVQUAL terdiri atas lima aspek kualitas pelayanan,
yaitu :
a.
Tangibles
(bukti
terukur), menggambarkan fasilitas fisik perlengkapan, dan tampilan dari
personalia serta kehadiran para pengguna.
b.
Reliability
(keandalan),
merujuk kepada kemampuan untuk memberikan pelayanan yang dijanjikan secara
akurat dan handal.
c.
Responsiveness
(daya
tanggap), yaitu kesediaan untuk membantu konsumen serta memberikan perhatian
yang tepat.
d.
Assurance
(jaminan),
merupakan karyawan yang sopan dan berpengetahuan luas yang memberikan rasa
percaya serta keyakinan.
e.
Empathy (empati),
mencakup kepedulian serta perhatian individual kepada para pengguna.
Aspek
kualitas pelayanan ritel modern menurut Dabholkar dalam Aryotedjo (2005)
meliputi lima aspek utama, yaitu :
a. Aspek
fisik (physical aspect), meliputi
penampilan fasilitas disik dan kenyamanan yang ditawarkan kepada konsumen
berkaitan dengan layout fasilitas fisik.
b. Reliabilitas
(reliability), yang pada prinsipnya
sama dengan dimensi reliabilitas pada model SERVQUAL. Hanya saja disini
reliabilitas dipilah ke dalam dua sub dimensi, yaitu memenuhi janji dan
memberikan layanan dengan tepat
c. Interaksi
personel (personal interaction)
mengacu kepada kemampuan karyawan jasa dalam menumbuhkan kepercayaan konsumen
dan sikap sopan/suka membantu.
d. Pemecahan
masalah (problem solving), berkaitan
dengan penanganan retur, penukaran, dan complain.
e. Kebijakan
(policy), mencakup aspek-aspek
kualitas jasa yang secara langsung dipengaruhi kebijakan took, seperti jam
operasi, fasilitas parker, dan pemakaian kartu kredit.
3. Faktor – Faktor Kualitas Pelayanan
Beach
dan Bushirle dalam Mabruroh (2003) mengatakan bahwa kualitas pelayanan dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor :
1. Penampilan
2. Keahlian
3. Suara
dan kebiasaan di dalam berbicara
4. Tata
cara dan tingkah laku
Sementara
itu, Sugiarto (2002) mengemukakan beberapa factor yang mempengaruhi kualitas pelayanan
antara lain :
a.
Memusatkan perhatian konsumen
Hal ini
dilakukan dengan mendengarkan konsumen dengan penuh perhatian, menanggapi
pembicaraan dengan konsumen, dan menempatkan kepentingan konsumen pada nomor 1.
b.
Memberikan pelayanan yang efisien
Adalah dimana
pelayanan dilakukan dengan tuntas dan tidak bertele-teke, mempergunakan waktu
seakurat mungkin.
c.
Meningkatkan perasaan harga diri tamu
Meningkatkan
perasaan harga diri tamu dapat dilakukan dengan mengenali kehadiran konsumen,
memuji dengan tukus dan memberikan penghargaan kepada konsumen, serta tidak
menggurui konsumen.
d.
Membina hubungan dengan konsumen
Membina hubungan
berarti menjaga hubungan baik dengan konsumen. Bisa dengan mendengarkan apa
yang disampaikan oleh konsumen, kemudian menunjukkan simpati kepada konsumen.
e.
Memberikan penjelasan dan keterangan
Adalah ketika
jasa pelayanan memberikan pelayanan secara baik dan benar kepada konsumen.
f.
Menentukan apa yang diinginkan konsumen
Dapat dilakukan
dengan cara menanyakan kembali apa yang diinginkan konsemen dan menarik inti
dari apa yang dikatakan.
g.
Memberikan penjelasan tentang jasa
pelayanan yang dapat diberikan perusahaan
Adalah
menjelaskan keuntungan yang akan diperoleh jika menggunakan fasilitas dan
pelayanan yang diberikan oleh perusahaan.
HUBUNGAN LAYANAN
DENGAN KOMUNIKASI
Komunikasi
merupakan salah satu tugas atau pelayanan yang harus dilakukan oleh setiap
kantor di bawah pimpinan manajer perkantoran untuk kepentingan seluruh
organisasi maupun puncak pimpinannya. Komunikasi adalah salah satu fungsi dasar
dari kantor dan merupakan proses yang esensial bagi semua bentuk perusahaan.
Komunikasi perusahaan diterima atau berasal dari kantor selama berlangsungnya
pekerjaan. Oleh karena itu, manajer kantor mempunyai tanggung jawab untuk
memelihara pelayanan komunikasi sebagai bagian dari organisasi kantor.
Komunikasi
di kantor adalah fungsi vital yang harus dilayani dengan analisis yang cermat
tentang tujuan dan kebutuhan suatu organisasi. Perkembangan teknologi informasi
telah menghasilkan permintaan akan peningkatan yang sebanding dalam pelayanan
komunikasi.
Menurut
Mills dalam The Liang Gie (63:2000), komunikasi adalah salah satu dari
fungsi-fungsi pokok kantor dan suatu proses yang penting bagi semua bentuk
perusahaan. Komunikasi adalah proses menyampaikan informasi dari satu orang
kepada orang lain. Sebagian besar komunikasi perusahaan diterima atau dimulai
oleh kantor dalam pelaksanaan pekerjaannya. Oleh karena itu, manajer
perkantoran mempunyai tanggung jawab untuk memelihara suatu pelayanan komunikasi
sebagai suatu bagian dari organisasi perkantoran.
Komunikasi
layanan perkantoran dewasa ini tidak hanya satu macam, kini telah dikembangkan
macam-macam sistem komunikasi dengan aneka peralatan. Seluruh kegiatan
perkantoran akan berjalan dengan baik apabila seluruh pihak menjalin komunikasi
yang baik antara pimpinan dan bawahan, dan melalui komunikasi inilah dapat
terciptanya pelayanan yang efektif bagi pihak dalam kantor itu sendiri maupun
bagi tamu atau pelanggan. Dan tugas utama pimpinan ialah menciptakan dan
memelihara komunikasi tersebut.
Untuk
dapat melakukan tugas untuk membina komunikasi dengan sebaik-baiknya, seorang
manajer perlu memahami asas-asas komunikasi dan menerapkannya dalam pelaksanaan
tugasnya. Mills dan Standingford dalam The Liang Gie (65:2000) mengemukakan 4
asas pokok komunikasi sebagai berikut:
1.
Komunikasi berlangsung antara pikiran
seseorang dengan pikiran orang yang lain
2.
Orang hanya bisa mengerti sesuatu hal
yang telah dimengerti. Dalam berbicara atau menulis kepada orang lain,,
perlulahh mempertimbangkan mengenai apa yang telah diketahuinya.
3.
Orang yang melakukan komunikasi
mempunyai suatu kewajiban untuk membuat dirinya dimengerti. Pengirim informasi
tidak dapat semata-mata menyalahkan pihak penerima bila informasi tersebut
tidak dimengerti. Kemungkinan sekali pengirim informasi tidak memilih kata-kata
yang tepat atau tidak memberikan penjelasan yang memadai.
4.
Orang yang tidak mengerti dalam menerima
informasi mempunyai suatu kewajiban untuk meminta suatu penjelasan. Penerima
informasi memerlukan penjelasan tambahan untuk dapat mengerti informasi yang
diterimanya.
Pelayanan
komunikasi di kantor terdiri dari dua jenis yaitu komunikasi lisan dan
komunikasi tertulis. Bentuk paling umum dari komunikasi lisan adalah suatu
percakapan antara dua orang atau lebih, yang biasanya untuk melakukan kerja
sama ataupun untuk membicarakan persoalan yang penting. Di samping itu, bentuk
umum dari komunikasi tertulis yaitu berupa surat-surat atau dokumen yang
diperlukan di kantor. Transaksi bisnis umumnya menggunakan komunikasi tertulis,
karena sebuah catatan tertulis yang ditandatangani oleh pihak lain dapat
menjadi bukti yang vital. Komunikasi lisan maupun tertulis sama-sama memiliki
manfaat sesuai kebutuhan.
Komunikasi
tertulis pada umumnya dibuat dengan diketik, karena pengetikan lebih cepat dan
hasilnya lebih mudah dibaca oleh pihak lain. Sementara komunikasi lisan
biasanya saat rapat atau pertemuan untuk membicarakan hal penting yang
berkaitan dengan kepentingan organisasi.
Untuk
penyampaian komunikasi tertulis maupun lisan, harus menyampaikan informasi
dengan kata-kata yang dapat dimengerti dan dipahami oleh penerima. Karena
apabila penerima dapat menerima informasi dengan baik, maka pelayanan
komunikasi tersebut dinilai berhasil dan benar. Selain pemilihan kata,
informasi memiliki asas kejelasan untuk mencapai sasaran komunikasi.
KESIMPULAN
Pelayanan di
kantor terdiri dari dua jenis yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tertulis.
Bentuk paling umum dari komunikasi lisan adalah suatu percakapan antara dua
orang atau lebih, yang biasanya untuk melakukan kerja sama ataupun untuk
membicarakan persoalan yang penting. Komunikasi tertulis pada umumnya dibuat
dengan diketik, karena pengetikan lebih cepat dan hasilnya lebih mudah dibaca
oleh pihak lain.
Pelayanan
merupakan ciri utama bagi sebuah kantor, terutama bagi penyediaan informasi,
karena dengan adanya informasi maka
pekerjaan maupun pembuatan keputusan dapat dilaksanakan. Sedangkan pelayanan
kantor sendiri adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh kantor
dalam rangka pemenuhan kebutuhan yang dapat melibatkan baik barang maupun jasa.
Seluruh staf dalam kantor perlu membangung
sifat melayani karena suatu pelayanan meupakan aspek penting yang sekaligus
merupakan kegiatan utama kantor. Pelayanan ini meliputi pelayanan pada sesama
staf kantor dan juga kepada pihak lain yang berkepentingan maupun tamu yang
membutuhkan informasi.
Pelayanan dan komunikasi sangat erat
kaitannya karena komunikasi yang baik dapat membentuk pelayanan efektif
sehingga menciptakan kualitas pelayanan seperti yang diharapkan. Apabila dalam
suatu kantor mengoptimalkan pelayanannya, maka kinerja dari kantor tersebut
dapat dinilai baik dalam menjalankan kegiatan di kantor
DAFTAR
PUSTAKA
Geoffrey, Mills,
Oliver, Standingford dan C Appleby, Robert. 1991. Modern Office Management. Jakarta: Binarupa Aksara
Gie,
The Liang. 2000. Administrasi Perkantoran
Modern. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta
Murwanti, S.
& Nursiam. 2004. Mahasiswa Perguruan Tinggi di Surakarta (Studi pada
Perguruan Tinggi Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Universitas
MuhammadiyahSurakarta). Empirika, Vol.17
No.1, Juni 2004.
Sugiarto, E.
2002. Psikologi Pelayanan dalam Industri
Jasa. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Tjiptono, Fandy.
2008. Service Management Mewujudkan Layanan Prima. Yogyakarta: Andi Offset.
Amalina, Camelia
H. 2010. Hubungan Antara Kepuasan
Konsumen dan Kualitas Pelayanan dengan Loyalitas Konsumen pada Ritel Modern.
Skripsi. Surakarta : Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran, Universitas
Sebelas Maret.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar